Display Band

Posted by localindie | Pop | Tuesday 13 May 2008 1:25 pm

display bandBand dengan formasi Yudiputra (Voices & Guitar), Zie Abbay (Bass), Adi Deta (Piano & Synth), dan Bagus Krisna (Drums & Sequencer) ini terbentuk 1 Maret 2005 di Yogyakarta mencoba menjadi bagian dari belantika musik dengan nama DISPLAY.

DISPLAY pada awalnya mengakat musik Japanese Rock sebagai referensi terbesar mereka. Sempat pula mengalami bongkar pasang personil sampai Desember 2007, hal ini juga membuat musik mereka ikut berubah menjadi lebih luas dan lebih dapat diterima masyarakat secara umum. Youth Digital Rock adalah musik Rock yang dikemas dengan sound-sound modern dan fresh yang mewakili jiwa anak muda. Terinspirasi oleh band-band rock modern seperti Good Charlotte, 30 Seconds to Mars, Fall Out Boy, dan Angels & Airwaves membuat musik mereka lebih berwarna dan bernyawa.

Tampil dengan performance mereka yang atraktif dan selalu memiliki konsep yang baru itulah DISPLAY. Dengan karakter panggung seperti ini, tidak heran rasanya minimal lima gig’s bisa termakan sekaligus setiap bulannya. (more…)

SKJ ‘94

Posted by localindie | Pop | Tuesday 6 May 2008 4:50 am

 

SKJ 94

Dengan nama nyentrik dan kover album yang lebih mirip kover band lawak, saya sempat berfikir kalau mereka itu tidak lebih dari band humor yang berusaha lucu padahal tidak lucu.

Saya salah, ternyata mereka bukan sekedar band humor, tetapi band disko aerobik dengan tema-tema mudah sekeharian seputar olahraga, gemerlap lantai dansa dan skutermatik. Secara musik tidak berada jauh dengan Fariz RM, Devo, Flock of Seagulls maupun band-band disko new-wave 80-an. Atau mungkin di scene lokal mereka tidak berada jauh dengan Goodnight Electric namun dengan keceriaan dan muatan lokal jauh lebih banyak.
(more…)

Efek Rumah Kaca Band

Posted by localindie | Pop | Saturday 19 April 2008 8:50 pm

 

Banyak yang mengatakan kalau musik Indonesia, khususnya pop sedang mengalami stagnansi, Banyak bermunculan grup yang membuat musik-musik “tidak bertanggung jawab”. Kenapa band-band itu-itu saja yang mampu merajai papan atas musik Indonesia? Apa memang selera music orang Indonesia yang sedang mengalami degradasi? Atau label mayor yang semakin tidak peduli dengan kualitas musik, selama itu pop, bertemakan cinta dan catchy maka pasti menjual? Entahlah, faktanya adalah label-label independen lebih mampu menelurkan band-band berkualitas dibanding label mayor.

Untungnya muncul band macam Efek Rumah Kaca, band pop asal Jakarta rilisan Pavilliun Record. Secara musik tidak ada yang baru dari debut album ini, namun lirik dan topik yang diangkat di daam lagu-lagunya sangat segar sehingga musiknya yang minimalis jadi terasa sangat berbobot. Jauh, saya garis bawahi lagi, JAUH, lebih berbobot ketimbang band-band yang saat ini sedang menjual ratusan ribuan kopi. Mendengar band ini membuat saya menghelakan nafas lega. Akhirnya. Kalau orang barat berkata, “there is a light at the end of the tunnel” (akan ada secercah cahaya di ujung lorong)

Band ini lebih mengingatkan saya pada band Indonesia beberapa tahun lalu bernama Kaimsasikun yang pernah muncul dengan lagu “Pria Dijajah Wanita”. Warna vokal Efek Rumah Kaca (ERK) cukup sedikit mengingatkan saya pada Kaimsasikun. Nomor-nomor yang patut disimak dengan seksama ada di “Jatuh Cinta itu Biasa Saja”, “Bukan Lawan Jenis”, “Debu-Debu Berterbangan”, “Melankolia”, “Desember”, dan dua lagu favorit saya secara personal: “Sebelah Mata”, dan “Di Udara”.

(more…)

Last Station Band

Posted by localindie | Pop | Thursday 10 April 2008 11:16 pm

last stationLastation adalah nama band dari sekumpulan anak muda yang penuh semangat dalam berkreasi dan menyalurkan talentanya di bidang seni musik. Band ini terbentuk pada 13 September 1998 di rumah Kemuning 8 Mataram yang juga menjadi markas dan tempat kumpul anak-anak band Mataram serta sarana untuk saling berbagi informasi dan belajar. Lastation adalah Gun2 (Vocal), Landis (Gitar), Pungky (Bass), Wawan (Drum).
Lastation di awal karirnya selalu menyisipkan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri saat tampil di atas panggung selain juga membawakan lagu-lagu milik orang lain sebagai lagu perbandingan saja. Lastation beraliran pop rock dan tidak menutup diri untuk memainkan genre musik lain. Mereka sempat menjadi home band di beberapa kafe dan klub malam selama 2 (dua) tahun. Proses rekaman berjalan setelah ada niat dan dukungan untuk membuat album rekaman sendiri. Album pertama di kerjakan di bawah bendera Karra Production dan mendapat respon yang baik dari masyarakat pecinta musik di daerah NTB. Album kedua dan ketiga sepenuhnya di kerjakan dibawah DIPA Production selaku manager dan produser. Luar biasa, materi lagu yang terangkum di dua album ini mampu membuat orang-orang ikut bernyanyi bersama saat dibawakan secara live, bahkan lagu Teman Layaknya Bintang bercokol di peringkat pertama selama 3 bulan di beberapa stasiun radio lokal. Album ketiga adalah album rohani yang proses pengerjaannya dari mulai pengumpulan materi hingga selesai hanya memakan waktu yang cukup singkat yaitu 1 (satu) bulan dan dirilis untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Perjalanan hidup dalam bermain musik serta kematangan dalam berkreasi membuat Lastation dipercaya menjadi Band Pembuka (Opening Art) band-band besar seperti BIP, Club Eighties, Letto, Samsons, dan Coklat ketika tampil di NTB. Hingga saat ini Lastation telah (more…)

NumeriQue Band

Posted by localindie | Pop | Saturday 29 March 2008 8:54 pm

NUMERIQUE

Gabungan Sebuah Band Yang Kompleks Dari orang-orang lama di musik yang hampir “pensiun” dalam bidang ini, bermula dari teman sepermainan Sekitar Tahun 2004
dimotori oleh arya, kikin, dan bedot yang pada saat itu masih maenin lagu-lagu orang laen. setelah lama vakum akhirnya pada 2007 kemarin tepatnya september, diawali dengan niat untuk tampil di acara Pestaphoria, band dadakan terbentuk lagi, namun setelah melalui proses panjang dan melelahkan, akhirnya tercipta formasi inti dari numerique di tahun 2008 ini.yang membuat kami benar-benar memainkan aliran numerique, karna setiap lagu terdapat karakter musik yang berbeda banget, gabungan dari perbedaan genre yang dibawa oleh masing2 personil Ading di posisi lead guitar cenderung memainkan rock n roll, sementara bedot di rhythm kerap memainkan pop alternative dan blues, sedangkan, wawan di posisi bass terbiasa dengan adiksinya terhadap A7X yang membawa pengaruh besar pada musiknya, arya dengan spirit punknya, dilengkapi dengan karakter vokal kikin yang pop banget ! (more…)